Perempuan Ditengah Dinamika Kehidupan Sosial Saat Ini

Jum'at, 06 Desember 2019 23:09 WIB

 

(Ilustrasi Kekerasan/Sumber : kabarnusa.com)

Oleh : Istiqomah Nur Fajri*

Fenomena kekarasanan terhadap perempuan kian menjamur, salah satunya kasus kekerasan incest (hubungan sedarah) yang terjadi di Provinsi Lampung Kabupaten Pringsewu,pada tanggal 24 Februari 2019. Perbuatan incest yang dilakukan oleh ayah, kakak dan adik kandung korban yang berinisial M, SA dan YF terhadap perempuan berinisial AG yang sudah diproses secara hukum dan sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)  merilis Catatan Tahunan (Catahu) tentang kekerasan Perempuan pada Tahun 2018 sebanyak 406.178 Kasus. Sedangkan di Tahun 2017 sebanyak 348.446 Kasus. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya kasus kekerasaan tersebut mengalami peningkatan sebesar 14% dibandingkan dengan Tahun sebelumnya.

Sedangkan mengenai kasus kekerasan terhadap perempuan yang diterbitkan setiap tahunnya terbagi menjadi 3 ranah yaitu: Ranah Privat, Ranah Publik/Komunitas dan Ranah Negara.

Kekerasan di Ranah Privat 

Privat yang dimaksud adalah kekerasan yang terjadi di lingkungan orang terdekat seperti keluarga, teman kerabat, suami, pacar dan sebagainya. Kekerasan seksual yang terjadi di dalam ranah privat ini paling banyak dilakukan oleh pacar (KDP) sebanyak 1.670 Kasus.

Lalu disusul oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi kedua terbesar yang dilakukan oleh ayah sebanyak 365 Kasus, paman sebanyak 306 Kasus dan suami sebanyak 195 Kasus.  Selanjutnya, kasus kekerasan incest (hubungan seksual yang dilakukan oleh orang yang masih ada hubungan darah) sebesar 1.071 Kasus.

Hal itu membuktikan bahwa ayah dan paman yang seharusnya menjadi pelindung dalam keluarga, justru berbanding sebaliknya yang menjadi salah satu pelaku dari kekerasan tersebut.

Kekerasan di Ranah Publik

Jenis kekerasan yang kedua dalam Ranah Publik/ Komunitas yang terjadi di lingkungan kerja, tetangga maupun di suatu lembaga seperti Pendidikan. Berdasarkan data Catahu 2018 jenis dan bentuk kekerasan di ranah ini paling banyak adalah jenis kekerasan seksual dalam bentuk pencabulan yang mencapai 911 Kasus atau dalam presentase 76% dan pelecehan seksual mencapai 708 Kasus.

Sedangkan untuk pelaku yang melakukan hal tersebut adalah paling banyak dari teman yang mencapai 1.106 Kasus dan tetangga mencapai 863 Kasus, ada juga dari guru, atasan kerja dan sebagainya. artinya jika melihat dari konteks pelaku tidak mengenal jabatan dan status sosial dan kondisi lingkungan sekitarnya.

Kekerasan di Ranah Negara

Jenis kekerasan yang ketiga dalam Ranah Negara, dimana negara yang seharusnya negara sebagai payung untuk melindungi segenap warganegara seperti apa yang telah termaktub dalam UUD 1945, namun secara praktek masih banyak kasus kekerasan yang menimpa perempuan.

Sehingga dalam penanganannya diperlukan kepastian hukum yang jelas dan kuat untuk meminimalisir adanya kekerasan yang terjadi. Seperti contohnya di Jawa Tengah mencapai 2.913 Kasus, DKI Jakarta 2.318 Kasus dan Jawa Timur 1.944 Kasus.

****

Lantas apa yang dimaksud dengan kekerasan ? Kekerasan merupakan suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan dengan sifat memaksa, kejam dan lain sebagainya yang dapat merugikan dan membuat orang lain tersiksa baik itu bersifat verbal maupun non-verbal.

Namun, asumsi publik menganggapbahwa kekerasaan hanya berbentuk fisik, padahal sejatinya kekerasan itu muncul ketika dari salah satu pihak laki-laki maupun perempuan yang mengalami ketidakadilan dalam paradigmagender, sehingga hal tersebut dapat memicu terjadinya kekerasan.

Sedangkan kekerasan terhadap perempuan ialah tindakan yang berakibat kesengsaraan pada perempuan secara Psikologis, Seksual maupun secara fisik. Termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi.

Untuk mencegah kasus kekerasan incest yang marak terjadi, diharapkan pelaku dapat dihukum sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya dan untuk seluruh elemen baik pemerintah maupun penegak hukum dan masyarakat sebisa mungkin harus mengoptimalkan peran dan fungsinya dalam menghentikan kekerasan seksual.

Kekerasan tersebut tidak dapat diselesaikan secara tuntas apabila tidak ada jaminan hukum bagi perlindungan perempuan. Mengapa perlu adanya jaminan hukum yang kuat ? Agar kekerasan yang terjadi ini dapat terminimalisir dan membawa efek jera kepada pelaku yang ingin melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan.

Kemudian sebagai perempuan pun sebisa mungkin harus melawan kekerasan tersebut supaya tidak dipandang lemah oleh laki-laki. (SR)

Hapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan !!!

*Istiqomah Nur Fajri adalah Kader IMM Renaissance FISIP yang turut aktif dalam diskusi Kelompok Studi Perempuan (KSP) IMM Renaissance FISIP. Selain itu, Istiqomah yang akrab disapa Kokom mengemban amanah sebagai Sekretaris Bidang IMMawati - IMM Renaissance FISIP Priode 2019/2020.

Shared: